Buku ini menggambarkan bagaimana bangsa Eropa yang selama ini dikenal seolah-olah hebat dan berperadaban, ternyata pernah terpuruk pada masa kegelapan selama berabad-abad. Dan, ini semua menjadi pelajaran, bahwa pada masa-masa kegelapan, agama dan ilmu pengetahuan menjadi cahaya yang sangat dibutuhkan.
Buku ini menegaskan bahwa dalam islam nilai atau kualitas seseorang bukan dilihat dari warna kulit, ras, dan status sosial, melainkan dari ketakwaan. Bilal yang dianggap rendah saat itu karena berstatus budak lagi berkulit hitam, justru diangkat dan dimuliakan oleh Rasulullah karena ketakwaannya.
Buku ini menceritakan kisah seorang tokoh yang dikenal sebagai Sang Penakluk, yakni Muhammad Al-Fatih. Dalam sebuah prasasti, ia dijuluki Sultan dua lautan, bayangan Tuhan di dua dunia, abdi Tuhan di antara dua ufuk, pahlawan di laut dan darat, dan seorang penakluk benteng Konstantinopel.